Di sebuah kampung, hiduplah dua orang janda yang bertetangga. Mereka sama-sama hidup sebagai orang tua tunggal dan sama-sama memiliki dua anak. Namun, mereka memiliki karakter yang berbeda. Ibu yang satu sangat pemarah. Pernah suatu ketika, anaknya memecahkan pot bungan kesayangannya, ia berteriak-teriak hingga suaranya terdengar di rumah sebelah. Berbeda dengan ibu yang lainnya, ia adalah seorang yang sabar dan menghadapi segala sesuatu dengan duduk diam di kaki Tuhan. Anak-anak mereka bersekolah di satu sekolah yang sama. Suatu malam, tanpa diduga anak-anak dari kampung ini berkelahi dengan anak kampung sebelah. Anak-anak dari kedua ibu ini terlibat didalamnya hingga mereka babak belur. Orang tua dari anak-anak yang berkelahi itu akhirnya membawa anak-anak mereka pulang, tidak terkecuali kedua janda ini. Sesampainya di rumah, ibu yang pemarah ini mulai bersungut-sungut, “Aduh Tuhan…mengapa kau ciptakan anak seperti ini…bikin malu orang tua saja….kalau besar nanti kamu tuh mau jadi apa??!!…” Bukan hanya itu saja, ibu ini terus saja bersungut-sungut setiap kali anaknya membuat masalah. Ibu yang kedua menghadapi kenakalan anaknya dengan sabar dan terus-menerus berdoa meminta Tuhan untuk mengubahkan hati anaknya. Ia tidak pernah mengeluh atau menggerutu dengan sikap anaknya. Ia berdoa dan pelan-pelan memberi nasehat bagi anaknya. Tidak jarang, ibu ini juga memperkatakan hal-hal yang baik tentang anaknya. Ia berkata bahwa anaknya pintar, anaknya taat, anaknya berhasil, bahkan saat marahpun, ia berusaha untuk tidak berkata jelek kepada anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Setelah dewasa, anak-anak yang diasuh dengan latar belakang yang sama, memiliki kehidupan yang berbeda. Si anak dari ibu yang pemarah ini bertumbuh menjadi anak-anak yang kasar dan sering membuat masalah dimana-mana. Sedangkan, anak-anak ibu yang sabar dan giat memperkatakan hal-hal yang baik ini menjadi orang-orang sukses dalam pekerjaannya.
Seorang penginjil bernama Bill Glass pernah berkata bahwa, “90 % dari penghuni penjara pernah mendengar orang tua mereka bersungut-sungut dan berkata’ kamu akan masuk penjara!’” Orang tua yang sering mengeluh dan menggerutu dengan keadaan anak-anaknya yang tidak baik secara tidak sadar telah mengucapkan perkataan kutuk bagi anak-anaknya sendiri. Dengan keluhan serta persungutan mereka, hidup anak-anaknya tidak akan diubahkan menjadi lebih baik, namun justru akan menjadi lebih buruk.
Kita dapat memetik pelajaran dari apa yang kita renungkan hari ini. Saat kita menghadapi segala sesuatu yang kelihatannya tidak baik, jangan pernah kita bersungut-sungut, menggerutu dan mengeluh, maupun berkata yang tidak baik. Tetaplah menjaga perkataan kita dengan perkataan yang baik. Perkataan yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Firman Tuhan dalam Yakobus 3:5 berkata, “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” Maka, jagalah perkataan kita supaya setiap kita bisa selalu memperkatakan hal-hal yang baik dan menerima hal-hal yang baik dari apa yang telah kita katakan.
_________________________________________ GOD Bless All of US
Family of God Church (GBI Keluarga Allah) TEL: +62-271-634996 (4 Lines) FAX: +62-271-642822 http://www.gbika.org staff@gbika.org
Sutan Syahrir 88 (Widuran) Solo 57129 Central Java Indonesia


